HUTAN PRODUKSI

 

             Hutan produksi seluas 69,4 juta ha diusahakan melalui sistem Hak Pengusahaan Hutan (HPH) oleh 652 pengusaha swasta maupun BUMN. Berdasarkan waktu pengusahaannya, pada saat ini pengelola HPH tersebut dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu: a) masih berlaku konsensinya 33,95 juta ha (293 unit HPH), b) habis masa berlaku ijin konsensinya 29,98 juta ha (288 unit HPH), dan c). dikembalikan ke negara 5,47 juta ha (71 unit HPH).

Tabel 1. Luas Hutan Produksi dan Sistem Pengusahaan HPH

 

No.

Pengelola HPH

Jumlah
(Unit)

Luas
(Juta/Ha)

1.

Masih Berlaku Konsesinya

293

33,95

2.

Habis Masa Berlaku Ijin Konsesinya

288

29,98

3.

Dikembalikan Ke Negara

71

5,47

Jumlah

652

69,4

 

             Rekalkulasi areal hutan produksi sampai dengan bulan Juni tahun 2000, baru dapat dilakukan pada areal HPH seluas 46,7 ha di 320 unit dan areal eks HPH sebanyak 112 unit yang merupakan penugasan kepada PT. INHUTANI I s/d V. Rekalkulasi areal HPH dimaksud didasarkan pada data Citra Landsat tahun 1997-1999, yang hasilnya disajikan pada Tabel 2.

             Dari Tabel 2 tersebut dapat dilihat bahwa hutan primer adalah 18,9 juta ha (41 %), hutan bekas tebangan 13,9 juta ha (29 %) dan hutan rusak 14,2 juta ha (30%). Dari hutan primer tersebut sebesar 7,3 juta ha (39 %) berada di pulau Papua, sedangkan sisanya tersebar di 25 propinsi lainnya. Pada umumnya kondisi hutan primer tersebut masih sangat baik namun tersebar pada areal yang sulit terjangkau (remote) untuk diusahakan serta dalam bentuk luasan-luasan yang kurang layak diusahakan.

             Di sisi lain luasan hutan produksi yang rusak dan atau menurun produktivitasnya telah mencapai 27,8 juta ha (59%). Secara jujur hal ini disebabkan antara lain oleh lemahnya perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam pengusahaan hutan maupun masih rendahnya kemampuan para pengusaha HPH (profesionalisme) dalam mengelola hutan produksi.

 

Tabel 2. Kondisi Sebagian Hutan Produksi di Indonesia

 

No. 

Penutupan Lahan

Areal HPH

Eks Areal HPH Penugasan Kepada PT. Inhutani I-V

Jumlah

Juta
(Ha)

%

Juta
(Ha)

%

Juta
(Ha)

%

1.

Hutan Primer

18,3

45

0,6

11

18,9

41*)

2.

Hutan bekas tebangan dengan kondisi baik s/d sedang

11,1

27

2,5

44

13,6

29

3.

Hutan rusak, tanah kosong, pertanian

11,6

28

2,6

45

14,2

30

Jumlah

41,0

100

5,7

100

46,7

100

Keterangan : *) Sebesar 7,3 juta ha (39%) berada di Propinsi Papua

5. Di sisi lain, isu global tentang kelestarian hutan merupakan isu strategis setelah HAM, sehingga komitmen Indonesia dalam melestarikan hutan sangat menentukan martabat bangsa Indonesia dalam pergaulan global. Tuntutan tersebut dikaitkan dengan pola perdagangan hasil hutan yang harus berasal dari hutan yang dikelola secara lestari (ecolabelling).

Dengan memperhatikan kondisi-kondisi tersebut, maka perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki pengelolaan hutan produksi agar kerusakan hutan maupun penurunan produktivitas tidak berlangsung terus menerus yang pada akhirnya akan mengganggu kelestarian hutan.

Keterangan : *) Sebesar 7,3 juta ha (39%) berada di Propinsi Papua

 

 

             Di sisi lain, isu global tentang kelestarian hutan merupakan isu strategis setelah HAM, sehingga komitmen Indonesia dalam melestarikan hutan sangat menentukan martabat bangsa Indonesia dalam pergaulan global. Tuntutan tersebut dikaitkan dengan pola perdagangan hasil hutan yang harus berasal dari hutan yang dikelola secara lestari (ecolabelling).

             Dengan memperhatikan kondisi-kondisi tersebut, maka perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki pengelolaan hutan produksi agar kerusakan hutan maupun penurunan produktivitas tidak berlangsung terus menerus yang pada akhirnya akan mengganggu kelestarian hutan.

 

Dengan memperhatikan kondisi-kondisi tersebut, maka perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki pengelolaan hutan produksi agar kerusakan hutan maupun penurunan produktivitas tidak berlangsung terus menerus yang pada akhirnya akan mengganggu kelestarian hutan.

No. 

Penutupan Lahan

Areal HPH

Eks Areal HPH Penugasan Kepada PT. Inhutani I-V

Jumlah

Juta
(Ha)

%

Juta
(Ha)

%

Juta
(Ha)

%

1.

Hutan Primer

18,3

45

0,6

11

18,9

41*)

2.

Hutan bekas tebangan dengan kondisi baik s/d sedang

11,1

27

2,5

44

13,6

29

3.

Hutan rusak, tanah kosong, pertanian

11,6

28

2,6

45

14,2

30

Jumlah

41,0

100

5,7

100

46,7

100

PRODUKSI HASIL HUTAN

Kayu Bulat

Produksi hasil hutan utama yang dihasilkan dari hutan adalah kayu bulat. Kayu bulat adalah semua kayu bulat yang ditebang atau di panen yang bisa dijadikan sebagai bahan baku produksi pengolahan kayu hulu (IPKH).  Produksi kayu bulat ini dihasilkan dari hutan alam melalui kegiatan perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), dan kegiatan ijin pemanfaatan kayu (IPK) dalam rangka pembukaan wilayah hutan dan dari Hutan tanaman melalui kegiatan perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI), dan terakhir dari kegiatan hutan rakyat.

Produksi kayu bulat yang dicatat dalam statistik ini tidak ikut didalamnya kayu bahan baku chip dan kayu bakar.

Pada tahun 2002, produksi kayu bulat adalah sebesar 8,14 Juta m3, dengan perincian dari kegiatan HPH sebesar 3,02 juta m3, dari kegiatan IPK sebesar 0,18 juta ha, dan dari hutan tanaman sebesar 4,93 juta m3.  Kayu bulat dari kegiatan hutan rakyat masih belum dapat direkam pada statistik ini.

 

Kayu Gergajian

Kayu Gergajian adalah kayu hasil konversi kayu bulat dengan mengunakan mesin gergaji, mempunyai bentuk yang teratur dengan sisi-sisi sejajar dan sudut-sudutnya siku dengan ketebalan tidak lebih dari 6 cm dan kadar air tidak lebih dari 18 %.  Kayu Gergajian yang diolah langsung dari kayu bulat, wajib didukung dengan dokumen yang sah.

Tahun 2002 produksi kayu gergajian yang tercatat adalah sebesar 415.751 m3, semakin menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

 

Kayu Lapis

Kayu Lapis adalah panel kayu yang tersusun dari lapisan veneer dibagian luarnya, sedangkan dibagian intinya (core) bisa berupa veneer atau material lain, diikat dengan lem kemudian dipress (ditekan) sedemikian rupa sehingga menjadi panel yang kuat.  Termasuk dalam artian ini adalah kayu lapis yang dilapisi lagi dengan material lain.

Produksi kayu lapis memiliki kecenderungan penurunan produksi yang dari tahun ke tahun sejak tahun 1996/1997.  Pada tahun 2002 produksi kayu lapis Indonesia hanya mencapai angka produksi 1,20 juta m3, terus menurun dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Produksi kayu olahan lainnya

Produksi kayu olahan lainnnya yang dicatat dalam statistik ini adalah produksi Blockboard, Veneer,  Particle board, chipwood, Pulp, Moulding dan Dowels.  Produksi kayu olahan pada tahun 2002 dirincikan pada Tabel-2.

 

Tabel-2. Volume Produksi Kayu Olahan Tahun 2002 

Nama Produk

Volume produksi Tahun 2002

Plywood

1.202.040 m3

Kayu gergajian

   415.751 m3

Woodworking

   5.098 m3

Blockboard

   76.088 m3

Veneer

    4.361.044 m3

Particle board

   6.731 m3

Chipwood

   22.024 m3

Pulp

   280.591 ton

Moulding

   93.883 m3

Dowels

           0 m3

Kayu olahan lainnya

     0 m3

Hasil Hutan Non Kayu

a.      Rotan (Rotan Bulat)

Rotan bulat adalah rotan asalan yang dihasilkan dari hutan alam atau hasil budidaya masyarakat di kawasan hutan. Potensi Rotan Indonesia cukup besar dan sebagian besar berasal dari propinsi-propinsi Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.  Di Pulau Jawa tanaman Rotan dibudidayakan oleh Perhutani

b.      Gondorukem

Gondorukem adalah getah dari pohon Pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi gondorukem. Kegunaan gondorukem adalah untuk bahan baku industri kertas, keramik, plastik, cat, batik, sabun, tinta cetak, politur, farmasi, kosmetik dll.

c.      Terpentin

Terpentin adalah getah dari pohon Pinus (Pinus merkusii) yang kemudian diolah menjadi terpentin. Kegunaan terpentin adalah untuk bahan baku industri kosmetik, minyak cat, campuran bahan pelarut, antiseptik, kamfer dan farmasi.

d.      Minyak Kayu Putih

Minyak kayu putih adalah produk dari daun pohon kayu putih (Melaleuca leucadendron) melalui proses penyulingan dihasilkan minyak kayu putih. Kegunaan minyak kayu putih adalah untuk bahan farmasi.

e.      Damar

Damar adalah hasil sekresi (getah) dari pohon Shorea sp, Vatica sp, Dryobalanops sp, dan dari suku Dipterocarpaceae. Didalamnya termasuk damar mata kucing dan damar gelap. Kegunaan damar adalah sebagai bahan korek api, plastik, plester, vernis, lak dan lain sebagainya.

f.       Sagu

Sagu adalah ekstrak tepung sagu yang diambil dari empulur pohon sagu (Metroxylon Rumphii Mart) yang tumbuh secara alam (luar Jawa) dan tanaman (Jawa).

g.      Sutera

Sutera adalah hasil/produk Usaha Tani Persuteraan Alam yang merupakan kegiatan usaha tani dengan hasil pokok berupa kokon atau benang sutera mentah.

h.      Kopal

Kopal adalah getah dari pohon damar (Agathis alba) yang kemudian diolah menjadi kopal. Kegunaan kopal adalah untuk melapisi kertas agar tidak rusak kalau ditulis dengan tinta.